Pendidikan

Zulkifli Hasan : Kembali Pendidikan Pancasila Di Kurikulum Sekolah

Gemariau.com | Kamis, 03 Mei 2018 - 02:47:17 WIB | dibaca: 75 pembaca

Berita Terkait :

GEMARIAU.COM - Mengisi Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei 2018, MPR menggelar Festival Pendidikan Pancasila. Di dalam acara ini, dideklarasikan Implementasi Pengajaran Pendidikan Pancasila. Ketua MPR Zulkifli Hasan ingin setelah acara ini, pendidikan Pancasila kembali diberlakukan di sekolah-sekolah.

Festival Pendidikan Nasional ini digelar di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/5/2018). Festival terselenggara berkat kerjasama MPR dengan Badan Pemasyarakatan Ideologi Pancasila (BPIP), Kaukus Pancasila DPR, dan Yayasan Cahaya Guru. Di festival ini, MPR mengundang 12 lembaga pendidikan yang dianggap telah melakukan internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah masing-masing.

Dua belas lembaga pendidikan yang dimaksud adalah SDN I Cisarua, Tegal Waru, Jawa Barat; SMAN Siwalima, Ambon, Maluku; SMPN 4 Pandak, Bantul, DIY; SMP Pawiyatan Daha Satu, Kediri, Jawa Timur; Yayasan Qariyah Toyyibah, Salatiga, Jawa Tengah; Sekolah Sanggar Alam Anak, Bantul, DIY; Yayasan Semi Palar, Bandung, Jawa Barat; SMP Pawyatan Daha 1 Kediri, Jawa Timur; SMA Iskandar Muda, Yayasan Iskandar Muda Medan, Sumatera Utara; SMA Bakti Karya Parigi Cintakarya, Parigi, Ciamis, Jawa Barat; dan Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti, Klaten Jawa Tengah. Selain itu, diundang juga beberapa sekolah di lingkungan Jabotabek. Total peserta yang hadir mencapai 1.000 orang.

Di acara ini, Zulkifli Hasan menyampaikan pidato pembuka sekaligus sosialisasi Empat Pilar MPR (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika). Di awal pidatonya, pria yang akrab disapa Zulhasan ini bercerita mengenai kehidupan masa kecilnya di Lampung yang berjalan rukun. Saat itu, meski banyak pendatang Bali di daerahnya, tidak pernah ada gesekan dengan penduduk lokal. Semua berjalan damai. Bahkan dirinya sering berburu bareng dengan anak-anak dari suku Bali.

"Kalau mendapat rusa, buat saya. Kalau dapat babi, buat orang Bali," kisahnya.

Sayangnya, saat ini, kerukunan seperti itu sudah hilang. Sekarang, antarsuku sering berselisih. Bahkan, sesama suku saja bisa bertikai. Hal ini, kata Zulhasan, terjadi karena persaingan dan perbedaan pilihan dalam Pilkada serta tidak adanya pendidikan Pancasila di sekolah. "Ini perlu diluruskan," imbuhnya.

Setelah reformasi 1998, memang tidak ada lagi pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di sekolah-sekolah. BP7 telah dicabut dan Penataran P4 dihilangkan. Selama 20 tahun, sejak masa reformasi sampai sekarang, hanya MPR yang melakukan sosialisasi Empat Pilar. Padahal, sebelumnya, pembangunan karakter bangsa dan penanaman nilai Pancasila dilakukan semua kalangan, termasuk para kepala daerah.

Akibat penghapusan pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran ini, banyak anak bangsa yang tidak tahu jadi diri bangsanya sendiri. Yang ada dalam pikiran generasi muda saat ini yang penting pintar, cepat lulus, dan segera mendapat kerja.

"Ini bahaya. Anak bangsa kita bisa rapuh. Berbagai hal buruk akan gampang merasuki mereka," ucap Zulhasan mengingatkan.

Untuk itu, MPR mengusulkan agar Pendidikan Pancasila segera diberlakukan kembali di sekolah-sekolah, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Dengan begitu, para generasi muda akan paham dengan jati diri bangsanya. Mereka tidak akan mudah lagi berselisih dengan sesama anak bangsa, karena tahu bahwa Indonesia dilahirkan dengan keberagaman.

"MPR sudah menyampaikan jauh-jauh hari ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk memasukkan kembali Pendidikan Pancasila ke sekolah-sekolah. Sekarang, harusnya Pancasila sudah masuk kembali ke mata pelajaran di sekolah," ucapnya.

Mengenai metode pendidikan Pancasila yang bakal diberlakukan, Zulhasan menyerahkan ke Kemendikbud untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Sebab, tidak mungkin melakukan doktrinasi seperi zaman Orde Baru.

"Yang penting, karaktennya tetap (Pancasila)," tandasnya. (rmol/gr)



comments powered by Disqus