Nasional

Perusahaan Bubur Kayu Buldoser Habitat Orang Utan Borneo

Gemariau.com | Selasa, 06 November 2018 - 23:26:11 WIB | dibaca: 66 pembaca

Berita Terkait :

GEMARIAU.COM -  PT Industrial Forest Plantation (IFP), sebuah perusahaan bubur kayu, terus melibas hutan alam Indonesia dengan tutupan hutan yang baik, diklasifikasikan sebagai hutan dengan stok karbon tinggi (HCS), untuk membuka jalan bagi perkebunan kayu pulp baru sementara juga mendapatkan keuntungan dari kayu berharga di dalamnya. .

Hutan HCS yang dibuka oleh perusahaan, yang tutupan lahannya masih terdiri dari hutan sekunder, adalah rumah bagi orangutan Kalimantan yang sangat terancam punah, menurut data dari IUCN.

Konsesi ini, yang terletak di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, mencakup area yang setara dengan lebih dari seratus ribu lapangan sepakbola. Hanya 10% dari konsesi yang merupakan bagian dari ekosistem gambut.

Konsesi kayu pulp besar diberikan izin pada pertengahan Oktober 2009, tetapi baru mulai beroperasi pada tahun 2016 setelah diambil alih oleh pemilik baru.

Hutan orangutan Kalimantan yang dihuni orang-orang yang dihancurkan oleh PT IFP harus diganti dengan pohon kayu putih dan akasia, yang keduanya merupakan sumber pasokan serat untuk industri pulp dan kertas.

Gambar Planet Explorer di bawah ini, yang disediakan oleh tim tata ruang foresthints.news, menggambarkan penyamarataan habitat orangutan Borneo yang sedang berlangsung di konsesi pulpwood dari Mei hingga Juli 2018.

Pengembangan perkebunan kayu pulp skala besar, seperti yang dicontohkan oleh operasi yang berkelanjutan di konsesi PT IFP, merupakan bukti yang tidak terbantahkan bahwa hubungan antara rantai pasokan serat pulp Indonesia dan deforestasi HCS dipastikan akan meluas selama bertahun-tahun yang akan datang.

Pada periode dari Agustus hingga Oktober 2018, penghilangan hutan sekunder yang didistribusikan dalam konsesi PT IFP terus berlanjut seiring dengan target perusahaan kayu pulp, sebagaimana ditunjukkan dalam gambar Planet Explorer berikut.

Tampaknya PT IFP tidak memiliki kekhawatiran sama sekali tentang pemberantasan hutan yang menjadi tuan rumah bagi orangutan Borneo dalam konsesi ini hampir 1,5 kali ukuran Singapura.

Konsesi yang dimaksud bukanlah izin pertukaran lahan, di mana konsesi kayu pulp yang ada yang dimasukkan ke dalam zona perlindungan gambut dikompensasikan dengan konsesi non-gambut baru oleh pemerintah, melihat bahwa sampai sekarang tidak terjadi pertukaran lahan seperti itu. .

Tidak dapat disangkal ada kesenjangan yang jelas dan jelas antara permintaan dan pasokan kayu pulp di Indonesia. Hal ini telah menyebabkan ekspansi bisnis terkait di mana pasokan kayu pulp dalam jangka panjang masih belum terjamin.

Jika perusahaan seperti PT IFP menganggap kesenjangan yang ada ini sebagai peluang bisnis dengan mengembangkan perkebunan kayu pulp baru, dengan demikian merusak hutan HCS dan habitat orangutan Borneo, ini hanya akan memperburuk masalah.***



Sumber : foresthints.news



comments powered by Disqus