Kota Pekanbaru

Pemkot Pekanbaru Lakukan Sinkronisasi Basis Data Keluarga Indonesia (BDKI)

Gemariau.com | Rabu, 10 Oktober 2018 - 11:39:30 WIB | dibaca: 65 pembaca

Berita Terkait :

GEMARIAU.COM - Pemerintah Kota (Pemkot) Pekanbaru, melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk dan KB) menerapkan Sistem Informasi Keluarga (SIGA) guna memantau akurasi pengendalian kependudukan.

"Demi membangun sistem data dan informasi penduduk yang lebih mumpuni, pada 2018 ini Disdalduk dan KB Pekanbaru melakukan sinkronisasi Basis Data Keluarga Indonesia (BDKI) dengan sistem informasi kependudukan," kata Kepala Disdalduk dan KB Pekanbaru, Muhammad Amin di Pekanbaru, Rabu (10/10/2018).

Amin menyatakan, SIGA akan menjadi data operasional bagi petugas KB dan pihak terkait dalam melakukan intervensi terhadap program pemberdayaan keluarga.

Sistem informasi yang dibangun ini, kata dia, digunakan sebagai peta kerja, intervensi program dan pengukuran kinerja. SIGA menjadi 'kendaraan' yang begitu penting bagi Disdalduk dan KB.

Pasalnya, data dan informasi keluarga berfungsi sebagai alat monitoring dan dasar perencanaan, pengukuran kinerja dan peta kerja pada setiap tingkatan wilayah Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK).

"Sinkronisasi itu menjadi salah satu fokus Disdalduk dan KB. Fokus lainnya mengintegrasikan data statistik rutin KKBPK, menjamin ketersedian data program KKBPK dan menjaga kerahasiaan individu," kata Amin.

SIGA dikembangkan sebagai aplikasi yang dapat mengintegrasikan aplikasi statistik rutin (pelayanan kontrasepsi, pengendalian lapangan) dan aplikasi pendataan keluarga.

"Penerapan aplikasi ini sebagai upaya meningkatkan ketersediaan data dan informasi keluarga yang berkualitas dan tepat waktu," ujar Amin.

Dia mengakui masih ada kendala. Satu di antaranya proses validasi. Seiring dengan kegiatan sinkronisasi data dan informasi, kendala itu akan diminimalisasi.

Caranya melalui peningkatan kompetensi dan pendayagunaan SDM pengelola data dan informasi (Datin) di setiap tingkatan wilayah dan peningkatan cakupan. Dengan demikian akan menambah kualitas BDKI.

Ditambahkannya, pemutakhiran BDKI adalah kegiatan untuk memutakhirkan data keluarga Indonesia dengan cara melengkapi, memperbaiki, memperbaharui, mencatat mutasi, mencatat migrasi, dan mendata keluarga baru yang ada maupun belum ada dalam BDKI.

Hal ini dilakukan petugas melalui kunjungan rumah dengan cara mewawancarai dan atau observasi keluarga.

"Yang jelas, dengan adanya SIGA, tersedia data akurat lengkap dengan nama dan alamat," kata Amin.

Dengan data dan informasi yang lengkap dalam SIGA, Disdalduk dan KB maupun pihak-pihak yang memanfaatkan data SIGA akan dimudahkan dalam melakukan pembinaan maupun intervensi.

Amin mengatakan, ke depan, salah satu arah kebijakan dan strategi program KKBPK difokuskan pada peningkatan ketersediaan dan kualitas data serta informasi kependudukan yang memadai. Untuk itu, SIGA harus menghasilkan data dan informasi yang tepat waktu dan tepat ukur.

"Jajaran Disdalduk dan KB dituntut agar data dan informasi program KKBPK harus akurat dan valid, terpercaya, serta dapat dimanfaatkan," ujarnya.

Untuk menghasilkan data akurat, data yang ditampilkan harus benar-benar sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan. Sebab, kebenaran data dan informasi akan memberikan potret yang sama dengan gambaran wilayah yang dipotret.

"Data yang baik haruslah objektif (sesuai dengan keadaan sebenarnya), representatif (mewakili semua kondisi), kekinian, relevan, dan mempunyai tingkat kesalahan baku (standard error) yang kecil," tandas Amin. (gr)



comments powered by Disqus