Dunia

Israel Klaim Hancurkan Terowongan Perbatasan Ke Mesir

Gemariau.com | Minggu, 14 Januari 2018 - 00:57:45 WIB | dibaca: 45 pembaca

Berita Terkait :

GEMARIAU.COM - Militer Israel mengklaim telah menghancurkan sebuah terowongan serangan lintas perbatasan yang membentang dari Jalur Gaza ke Israel dan Mesir yang digali Hamas, kelompok gerilyawan yang mengendalikan daerah kantong Palestina pada Minggu (14/1).

Menurut warga di Jalur Gaza, jet-jet tempur Israel mengebom daerah di sebelah timur Kota Rafah di bagian selatan Gaza, dari perbatasan Mesir dan Israel pada Sabtu malam. Israel segera mengkonfirmasi serangan tersebut namun tidak memberikan rincian sampai Minggu.

"Kami memahami ini adalah terowongan teror karena berada di bawah fasilitas strategis. Ini juga bisa membantu memindahkan teroris dari jalur Gaza ke Mesir untuk menyerang sasaran Israel dari Mesir," kata Juru Bicara Militer Israel Kolonel Jonathan Conricus.

Conricus mengatakan bahwa terowongan yang dihancurkan pada Sabtu digali oleh operasi kunci HAMAS dan memiliki panjang 1,5 kilometer menembus 80 meter di bawah perbatasan Kerem Shalom yang melintasi Israel dan ke Mesir.

"Ini jelas suatu kemungkinan bahwa sebuah serangan akan terjadi dalam waktu dekat," ujarnya.

Seperti dikutip Antara, Kerem Shalom yang merupakan jalur utama untuk barang-barang memasuki Gaza itu telah ditutup pada Sabtu sebelum serangan Israel.

Ketegangan meningkat di kawasan ini sejak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membalikkan kebijakan Amerika Serikat yang telah berlangsung selama beberapa dasawarsa pada 6 Desember dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Selama perang Gaza terakhir, pada 2014, pejuang Hamas menggunakan lusinan terowongan untuk menghindari pasukan Israel dan mengancam masyarakat sipil di dekat perbatasan.

Militer Israel mengatakan telah menghancurkan tiga terowongan tersebut dalam dua bulan terakhir.

Israel sedang membangun sebuah dinding bawah tanah yang dilengkapi sensor sepanjang perbatasan sepanjang 60 kilometer dan bertujuan untuk menyelesaikan proyek senilai USD 1,1 miliar itu pada pertengahan 2019. (rmol/grc)



comments powered by Disqus