Kota Pekanbaru

DP3A Pekanbaru Ajak Masyarakat Berperan Aktif Awasi Kejahatan Pada Anak

Gemariau.com | Senin, 09 April 2018 - 16:12:51 WIB | dibaca: 95 pembaca

Berita Terkait :

GEMARIAU.COM - Meski dinobatkan sebagai Kota Layak Anak tingkat pratama pada tahun 2015 dan 2017 lalu, bukan berarti Kota Pekanbaru terbebas dari berbagai tindak kejahatan pada anak. Pasalnya hingga saat ini persoalan kekerasan dan ekploitasi pada anak masih saja terjadi.

Untuk itu, masyarakat dan seluruh instansi terkait dihimbau untuk sama-sama berperan aktif mengawasi anak-anak yang berada di lingkungan sekitar dan bergerak cepat agar anak-anak di Pekanbaru tidak menjadi korban dari orang-orang yang mencari keuntungan pribadi. Misalnya memperkerjakan anak di lampu-lampu merah hingga larut malam, terlebih lagi saat ini Kota Pekanbaru sedang gencar-gencarnya menargetkan Kota Layak Anak tingkat Madya tahun 2018 ini.  

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Perempuan dan Anak (DP3A) Kota Pekanbaru, Mahyuddin mengatakan, setiap kota laik anak bukan berarti tidak terdapat kasus kekerasan.

"Setiap kota layak anak, bukan berarti tidak ada kekerasan di situ. Kekerasan tidak bisa diprediksi dan tidak (selamanya) bisa diantipasi. Ada yang sifatnya spontan dan terencana. Dan tergantung mental masyarakat, tapi sejauh mana negara peduli terhadap kekerasan itu," ungkap Mahyuddin, Senin (9/4/2018).

Tidak hanya itu, Mahyuddin memastikan bahwa setiap kekerasan yang terjadi pada anak dan perempuan ditangani serius oleh pemerintah daerah. Termasuk juga mengatasi Gepeng dan anak jalanan yang berjualan koran di lampu merah.

"Pihak-pihak terkait seperti Satpol PP,  Dinsos sudah beberapa kali melakukan penertiban, memang ini tidak bisa diserahkan kepada mereka saja, terlebih lagi ada indikasi bahwa anak-anak ini diperkerjakan oleh oknum agennya. Itu perlu bekerjasama mengatasinya. Dipastikan ini diperhatikan, namun menyelesaikannya tidak semudah yang dibayangkan. Jadi kalau Pekanbaru tidak layak menjadi kota anak karena persoalan tersebut, naif sekali. Sebab indikatornya banyak, ada lima klaster penilaian kota layak anak itu," pungkas Mahyuddin. (gr)



comments powered by Disqus