Peristiwa

Dinkes Bengkalis Temukan Satu Kasus Kematian Bayi Akibat Rubella, Namun Masyarakat Berpendapat lain

Gemariau.com | Sabtu, 13 Oktober 2018 - 02:07:19 WIB | dibaca: 108 pembaca

Berita Terkait :

GEMARIAU.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bengkalis Provinsi Riau menemukan satu kasus kematian bayi akibat virus Rubella di daerah itu pada September 2018. Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Bengkalis Alwizar mengatakan, bayi yang meninggal tersebut berasal dari Desa Bantan Tua, Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis, lahir dengan Congenital Rubella Syndrome, yaitu katarak dan bocor jantung.

"Bayi tersebut lahir di RSUD Bengkalis dan meninggal pada usia lebih kurang 16 hari kelahirannya pada September yang lalu. Dari hasil pemeriksaan sampel darah bayi tersebut dinyatakan positif Rubella," ujar Alwizar, di Bengkalis, Sabtu (13/10/2018).

Menurut Alwizar, upaya pencegahan dan pengendalian penyakit campak dan Rubella ini hanya ada satu cara, yaitu pemberian imunisasi Measles Rubella (MR).

"Kami mengimbau masyarakat agar dapat mengimunisasikan anaknya. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 33 Tahun 2018 telah jelas menyatakah bahwa pemberian imunisasi MR ini adalah mubah," paparnya.      
    
Dikatakannya, di Kabupaten Bengkalis dari pendataan sasaran dengan metoda "entry by name by address", jumlah sasaran imunisasi ini sebanyak 160.828 penduduk yang berusia kurang dari 1 sampai dengan 15 tahun.

"Sampai dengan 10 Oktober 2018 pencapaian Kabupaten Bengkalis baru sebesar 72.465 sasaran atau 45,06 persen," katanya.

Ditambahkannya, untuk luar pulau Jawa termasuk Kabupaten Bengkalis, imunisasi MR ini awalnya dilaksanakan Agustus sampai September 2018.

"Untuk imunisasi MR ini di Kabupaten Bengkalis diperpanjang hingga 31 Oktober 2018. Karena waktu masih ada, kami mengimbau masyarakat agar dapat mengimunisasikan anaknya," katanya. seperti dikutip dari antarariau.

Namun sebagian masyarakat Islam fanatik masih ragu akan fatwa MUI tersebut karena mereka menganggap situasi ini belum dalam keadaan darurat, sebagaimana pendapat dari Edi salah seorang kapala keluarga yang berada di kecamatan Tenayan Raya saat berbincang-bincang dirumahnya.

"Obat dari Unsur babi yang diharamkan dalam Islam boleh digunakan mungkin jika dalam keadaan darurat, bila kita lihat sekarang ini, saya rasa tidak dalam keadaan darurat, dan seharusnya pemerintah harus mencari obat-obatan pencegah virus rubella yang tidak memiliki unsur babi yang diharamkan, kan masih banyak waktu bagi pemerintah..... dan kenapa harus dipaksakan sekarang?, mungkin umat islam bisa menilai sendiri," ucapnya.

"Jika seperti kasus jemaah haji yang harus berangkat ketanah suci dalam waktu satu minggu ini, dan serumnya sudah terlanjur dipesan oleh pemerintah, itu kan kasusnya lain lagi kan?, tambahnya.

Selain itu seorang ibu rumah tangga dan Baharudin suaminya yang tinggal di tenayan raya juga berpendapat sama dengan pak Edi, meraka mengharamkan menyuntikan serum rubbella yang mengandung babi ketubuh anaknya.

"Jika penyakit itu timbul mungkin sudah kehendak Allah SWT, tapi kami tak mau sesat dengan mengikuti pendapat yang salah dengan statusnya tidak darurat," jelasnya.

"Dan Jika dalam satu Kelurahan atau Rukun Warga saja, sudah terjangkit Virus Rubella, barulah namanya Darurat ngerti ndak?!..., atau mereka butuh sekolah lagi, tegasnya.(64n)



comments powered by Disqus