Nasional

"Bencana Kabut Asap Ibarat Teror Bom"

Gemariau.com | Jumat, 27 September 2019 - 13:48:09 WIB | dibaca: 170 pembaca

Berita Terkait :

GEMARIAUCOM, PEKANBARU - Kejahatan pembakaran hutan dan/atau lahan bukanlah kejahatan biasa. Akibat dari pembakaran ini menimbulkan ketakutan dimana-mana untuk beraktifitas secara normal. Orang-orang yang hidup dalam kabut asap menggunakan masker atau penutup hidung sebagai alat untuk menyaring asap agar udara yang dihirup bisa tersaring. Hal demikian disebabkan pekatnya kabut asap. 

Kabut asap bisa menyebabkan ISPA (infeksi saluran pernapasan akut). Selain penyakit yang bisa ditimbulkan karena asap, kehilangan nyawapun bisa dimungkin jika penyakit yang diderita semakin parah. Misalnya yang memiliki gejala “asma”, tentu dengan adanya asap sangat mendukung penyakit asma seseorang kambuh.  

Apabila ini terjadi bisa menganggu perekonomian dari seseorang, keluarga bahkan suatu daerah. Hal demikian disebabkan karena orang sakit tidak akan bisa bekerja secara maksimal. Bahkan sangat dimungkin orang tersebut harus dirawat secara medis dan tidak sama sekali bisa beraktifitas untuk bekerja.

Bahkan menakutkan lagi jika petani tidak bisa turun kelahan pertanian dan bisa-bisa bahan pokok tidak terpenuhi secara merata. Maka selain bahan kebutuhan akan menjadi sulit, harga bahan pokok juga bisa melonjak tinggi, karena terjadi kelangkaan atau stok yang terbatas. 

Selain itu kebakaran hutan atau lahan juga akan merusak lingkungan hidup. Gambut, kayu, binatang dan makhluk hidup lainnya yang hidup didalamnya akan menjadi korban dari pembakaran tersebut. Keseimbangan alam akan terganggu, karena terjadi perusakan. Hutan atau lahan yang terbakar akan banyak membawa kerugian bagi negara, lingkungan dan manusia.

Oleh sebab itu, kejahatan pembakaran hutan tidak bisa dikategorikan kejahatan biasa. Akibat yang bisa ditimbulkan dari pembakaran hutan dan lahan serta asap tersebut, sebagai berikut:
 
Pertama asap tersebut saat ini telah menimbulkan suasana teror atau rasa takut yang meluas dikarena asap bisa mengakibatkan seseorang jatuh sakit bahkan kehilangan nyawa.
 
Kedua asap yang menyelubungi daerah-daerah yang terkena bencana asap saat ini telah mengakibatkan korban yang bersifat massal.
Ketiga kebakaran yang menimbulkan asap saat ini juga merusak lingkungan hidup.
 
Keempat adapun motif dari pelaku patut diduga untuk kepentingan menguatkan pelaksanaan ideologi kapitalisme dan secara politik menghambat negara untuk mensejahterakan rakyatnya.

Melihat Undang-Undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 2018 tentang Terorisme, Pasal 1 ayat 2,
 
“Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, Iingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan”. 

Maka unsur-unsur yang ada pada Pasal ini memenuhi akibat dari yang ditimbulkan perbuatan pembakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan asap. Adapun unsur-unsur yang bisa memenuhi kategori terorisme berdasarkan pasal di atas, sebagai berikut:
Pertama perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas.
Kedua dapat menimbulkan korban yang bersifat massal.
Ketiga menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, Iingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional.
Keempat motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan.

Melihat akibat dari pembakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta asap yang ditimbulkannya memenuhi unsur-unsur tindak pidana terorisme. Kejahatan Karhutla bisa dituntut dengan undang-undang terorisme. Pasukan yang disiapkan negara untuk melakukan penegakan hukum bagi pelaku tindak pidana terorisme, tidak lagi hanya berurusan dengan orang yang menggunakan bahan peledak atau senjata api. Penegak hukum tindak pidana terorisme juga seharusnya menegakkan hukum bagi pelaku kejahatan Karhutla.

Saat ini perlu dilakukan penguatan bagi penegak hukum dan pemerintah daerah agar penegakan hukum Karhutla bisa dilakukan dengan benar. Penguatan ini bukan hanya dari segi sarana perlengkapan untuk menangkap pelaku kejahatan Karhutla tetapi juga dari segi intelektual, moral dan spiritualnya. Tujuannya agar tidak terjadi kongkalikong antara pemilik modal dan penegak hukum dalam penegakan hukum.***

ZAINUL AKMAL
Dosen FH UR & Koordinator Gusdurian Pekanbaru



comments powered by Disqus